dr. Evania Astella, M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K

Berapa banyak di antara kita yang tidak bisa menolak gorengan? Dari bakwan, tempe, pisang, hingga tahu isi hampir semua makanan di Indonesia bisa diolah dengan cara digoreng. Rasanya gurih, renyah, dan memuaskan, tapi di balik kenikmatannya, gorengan menyimpan risiko besar bagi kesehatan tubuh, terutama jantung dan pembuluh darah.

Masalah utama dari gorengan terletak pada minyak goreng yang dipanaskan berulang kali. Saat minyak dipanaskan pada suhu tinggi, akan terbentuk radikal bebas dan lemak trans, yaitu jenis lemak tidak sehat yang dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan menurunkan kolesterol HDL (kolesterol baik). Kondisi ini mempercepat pembentukan plak di pembuluh darah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan tekanan darah tinggi.

Selain itu, proses penggorengan pada suhu tinggi juga memicu terbentuknya senyawa berbahaya seperti acrylamide, acrolein, dan aldehid, yang dikenal sebagai senyawa karsinogenik atau pemicu kanker. Zat-zat ini terbentuk terutama saat bahan makanan kaya karbohidrat (seperti tepung) digoreng hingga kecokelatan. Semakin sering minyak digunakan berulang, semakin tinggi kadar senyawa toksik yang terkandung di dalamnya.

Dari sisi kalori, gorengan juga berbahaya karena menyerap minyak hingga 4–5 kali lipat lebih banyak dibandingkan bahan mentahnya. Saat bahan makanan kehilangan air selama proses penggorengan, minyak masuk menggantikannya, sehingga kandungan kalorinya melonjak tajam. Misalnya, sepotong tempe goreng bisa mengandung hingga 200 kalori, padahal tempe kukus hanya sekitar 70 kalori. Bila dikonsumsi rutin tanpa pengendalian, kebiasaan ini mudah menyebabkan peningkatan berat badan dan obesitas, yang menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit metabolik.

Karena itu, sebaiknya batasi konsumsi gorengan hanya sesekali, gunakan minyak baru, hindari suhu terlalu tinggi, dan pilih metode memasak yang lebih sehat seperti memanggang, menumis ringan, atau menggunakan air fryer. Gorengan boleh saja sesekali dinikmati asal tidak jadi kebiasaan harian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *