dr. Evania Astella, M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K
Nutrisi memiliki peran krusial dalam perkembangan otak, sistem imun, dan perilaku anak dengan ASD. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asupan gizi yang seimbang dapat membantu mengurangi gejala utama autisme, seperti gangguan komunikasi, perilaku repetitif, dan kesulitan sosial. Karena itu, evaluasi status gizi secara menyeluruh sangat penting, baik untuk mendeteksi kekurangan maupun kelebihan zat gizi yang bisa memperburuk gejala.
Pendekatan diet untuk ASD umumnya mencakup dua strategi utama. Pertama, melengkapi kekurangan zat gizi makro dan mikro yang sering ditemukan pada anak autisme. Vitamin dan mineral seperti vitamin A, D, C, folat, B6, B12, serta mineral seng (zinc) dan tembaga (copper) berperan penting dalam fungsi saraf dan metabolisme otak. Selain itu, asam lemak omega-3, prebiotik, dan probiotik juga sering digunakan untuk mendukung fungsi otak dan kesehatan usus, yang diketahui memiliki hubungan erat dengan perilaku dan emosi melalui gut-brain axis.
Kedua, menghindari komponen makanan tertentu yang dapat memperburuk gejala atau menimbulkan intoleransi, seperti gluten (protein gandum) dan casein (protein susu). Pada sebagian anak, pola makan bebas gluten dan casein (gluten-free casein-free diet) dapat membantu memperbaiki perilaku dan konsentrasi.
Meski demikian, setiap anak dengan ASD bersifat unik. Karena itu, diet sebaiknya dipersonalisasi berdasarkan hasil evaluasi gizi, pola makan, dan respons individu, serta dilakukan di bawah pengawasan dokter spesialis gizi klinik untuk memastikan keamanan dan efektivitas jangka panjang.
